Semilir Rindu Daerah Istimewa

(Tugu Baru, Sumber: Image Gallery Jogjakarta)
Semilir angin menemani setiap ruas jalan kota, sembari terdengar musik gamelan Jawa yang kental terasa. Di beberapa sudut kota, kutemukan jajaran lampu dengan sorot kuningnya, tak lupa hiasan taman nan gemerlap di tengah kota. Indah, benar-benar indah, kiranya begitulah sebait kalimat yang terngiang dipikiranku ketika kutatap dengan amat. Sejenak kuteringat lirik lagu dari grup band Ungu

"Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu 
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku 
Bersahabat penuh selaksa makna
 
Terhanyut aku akan nostalgia

Saat kita sering luangkan waktu 
nikmati bersama suasana jogja"

Satu per satu kenangan kembali bergentayangan dalam pikiranku, bukan seram ataupun suram, hanya saja terlalu manis. Tak lama sampailah pada destinasi malamku, Malioboro. Setibanya di sana, jajaran toko yang menjual beragam oleh-oleh menyambutku, dari menjual pakaian, aksesoris, pernak-pernik hingga makanan ringan khas Yogyakarta. 

Kutelusuri sepanjang jalan pertokoan di Malioboro hingga sampailah aku pada salah satu toko pakaian yang mempunyai magnet untuk menarik tubuhku lekas masuk dan membeli. Tentengan belanjaan memenuhi kedua tanganku dan bergegas pergi. Kali ini, kupilih becak motor (bentor) sebagai transportasi untuk menuju ke stasiun.

Di ruas jalan, kutemui banyak pedangang kaki lima yang dipenuhi dengan orang yang duduk bersila. Musisi jalanan pun turut serta meramaikan malam kota, menyanyikan beberapa lagu ditemani dengan peralatan musik yang dibawanya. 

Pantas saja Yogyakarta mendapat julukan Daerah Istimewa. Keistimewaan tempat, wisata, dan suasananya selalu mampu menjadi daya tarik bagi setiap pengunjungnya untuk kembali, lagi dan lagi. (Izzatu Miratin Nisa, Yogyakarta)

Komentar

Posting Komentar