Pelita Mahasiswa, Politeknik Negeri Jakarta



Oleh: Izzatu Miratin Nisa
Tugu PNJ

Universitas merupakan jenjang tertinggi dalam pendidikan, menjadi tolak ukur bagi lulusan siswa dan siswi.  

Siapa yang tidak kenal dengan Universitas Indonesia? Salah satu Perguruan Tinggi Indonesia yang terletak di Depok, Jawa barat. Kampus yang cukup terkenal dengan harum namanya dan warna almamaternya. Universitas  yang dikelilingi pepohonan di sekitarnya serta sejuk nan asri suasananya ini ternyata terselip sebuah nama perguruan tinggi di dalamnya.  


Tak sekali pun terasa jemu  jika menceritakan tentang kampus yang dipimpin oleh Abdillah SE, M. Si. Kampus yang mulai berdiri pada 20 September 1982 ini dahulunya merupakan bagian dari Universitas Indonesia. Politeknik Universitas Indonesia, begitulah namanya. Sejak 25 Agustus 1998 berganti nama menjadi Politeknik Negeri Jakarta (PNJ)


Saat memasuki kawasan kampus, mata akan disuguhkan dengan jajaran pepohonan yang menyejukkan dan meneduhkan. Hilir angin yang berembus menambah keasrian jalan pintu masuk, membuat siapa pun yang lewat akan merasakan kesejukan udaranya. Dedaunan seolah berbicara dan mengisyaratkan setiap embusan angin yang menerpa.


“PNJ itu nyaman banget, selain tempatnya yang adem juga jauh dari ribut suara kendaraan. Jadi, enak aja belajarnya untuk mahasiswa yang membutuhkan ketenangan,” kata Laela, salah satu mahasiswa PNJ. 



Dengan wilayah yang cukup luas, kampus yang beralmamater kuning ini memiliki tujuh jurusan, di antaranya Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Akuntansi, Administrasi Niaga, Teknik Grafika dan Penerbitan, serta Teknik Informatika dan Komputer. 


Selain itu, ada beberapa organisasi di dalamnya, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), beberapa UKM, dan himpunan mahasiswa masing-masing jurusan. Jika masih banyak mahasiswa yang memilih kuliah pulang, lain halnya dengan Hikma yang menjadikan BEM sebagai tempat mengembangkan dan mengeluarkan potensi dirinya serta menganggap bahwa mengikuti organisasi saat kuliah itu penting. 


“Penting banget ikut organisasi saat kuliah, karena di situ kita bisa belajar hal-hal baru, memperluas koneksi, belajar membagi waktu juga, yang paling penting bagaimana cara kita mempertanggungjawabkan atas apa yang sudah kita pilih dan jalankan,” jelasnya. 


Lain halnya dengan Laela yang lebih memilih tidak mengikuti organisasi dan UKM karena takut tugas-tugasnya terbengkalai. 


“Iya kan kalau ikut organisasi jadi lebih ke organisasi, ke sana-kemari, jadi takut kalau tugas kuliah malah terbengkalai, lebih tepatnya takut tidak bisa membagi waktu,” ujar Laela. 


Hikma pun tidak menempik hal tersebut, pada awal mengikuti organisasi tugas kuliahnya sempat terbengkalai. Namun, seiring berjalannya waktu dan sering dikejar deadline tugasnya pun dikerjakan dengan serius tapi santai.


Selain organisasi, terdapat banyak pula fasilitas yang disuguhkan untuk mahasiswanya, seperti Gedung Serba Guna (GSG), perpustakaan pusat, internet dan wireless hotspot, Masjid Darul Ilmi, koperasi mahasiswa, kantin, mesin ATM, bus politeknik, fasilitas olahraga, papan tebing astadeca, kolam renang, dan pusat kegiatan mahasiswa (Pusgiwa). 


“Fasilitas yang disediakan memang banyak, namun ada yang belum secara optimal membantu mahasiswa, seperti wifi yang masih suka loading lama, ya mungkin efek karena banyak yang menggunakan,” kata Hana, salah satu mahasiswa PNJ.


Hiruk pikuk pemandangan mahasiswa dan mahasiswi yang berjalan dari tugu PNJ dengan memantapkan jalannya. Hilir mudik bus politeknik (bipol) yang mengangkut mahasiswa dari Stasiun Universitas Indonesia menuju ke PNJ dan berhenti di depan gedung Teknik Mesin adalah pemandangan yang tiada henti PNJ suguhkan. Satu per satu mahasiswa turun dan berjalan menuju jurusan masing-masing.


Pun ada mahasiswa dan mahasiswi yang asik duduk di sekitaran Gedung Serba Guna (GSG). Sambil menatap ponsel dan cekikikan. Bukan menjadi hal yang lumrah, jika wifi area lebih diminati oleh mahasiswa ketimbang tempat-tempat inti di kampus ini, misalnya perpustakaan pusat ataupun pusat kegiatan mahasiswa (Pusgiwa). Seperti halnya Elva, salah satu mahasiswa PNJ yang mengaku lebih suka duduk di GSG sambil menikmati wifi yang disediakan daripada ke perpustakaan. 


Memasuki area parkir Teknik Grafika dan Penerbitan (TGP), senyum sumringah terpancar dari wajah tiga satpam penjaga parkiran. Satu per satu kartu parkir diberikan kepada mahasiswa. Deretan motor dengan tatanan rapi terpampang jelas dipelupuk mata. Dari parkiran atas sampai parkiran bawah tiada hentinya deretan motor tertata. 


Memasuki gedung TGP, suasana kian hangat. Ada senyum, sapa, dan salam di tiap sisinya. Suasana kekeluargaan kental terasa. 


“Mahasiswa TGP itu sopan, baik, dan yang lebih lagi kreatif, makanya estetika gedungnya ada,” tambah Hana. Begitu pula dengan Hikma yang terngiang dalam benaknya jika TGP disebutkan “Kreatif!” katanya. 


Deretan karya mahasiswa terpasang elok menghiasi dinding lantai bawah. Estetika dan pesona gedung TGP begitu kental terasa. Setiap lantai terdapat karya yang mempercantik sudutnya. Membuat siapapun yang berkunjung tak akan pernah jenuh dengan keindahan yang disuguhkan. 

“Memang gedung TGP itu yang paling kelihatan estetikanya. Mungkin kalo tampak dari luar sama seperti gedung lainnya, tapi setelah masuk mata benar-benar disuguhkan deretan karya, jadi kalau mau ke TGP lagi pun tidak akan mikir lama.” Pengakuan Nida, salah satu mahasiswa Akuntansi. 

Komentar

Posting Komentar