Pulang

oleh: Izzatu Miratin Nisa
(sumber: google.com)


Sunyi senyap menerpaku
Keheningan malam membuatku hanyut dalam kenangan
Membawa kerinduan yang tak terduga
Terlintas dalam fikiranku
Akankah asa ini kembali pulang dan bertemu pahlawan hidupku?

Rumah adalah tempat terbaik yang pernah kudapat, begitu hangat, nyaman, dan aman. Tak sedikit pun aku merasa takut berada di sana. Keluh kesah selalu terurai dan terselesaikan dengan mudah di rumah. Tak ada gelisah.
Rumah yang selalu hangat, sarapan pagi yang nikmat, senyuman ibu yang menyejukkan, pelukkan hangat dari abah, serta canda tawa dari kakak, adik, dan keponakanku. Aku sangat ingin pulang, tetapi seketika aku tersadar akan komitmenku di sini, apa tujuanku ke sini? Apa yang aku lakukan di sini? Apa yang aku inginkan di sini? Seperti tak sepantasnya aku menyerah pada keadaan, aku harus bertahan walaupun sulit.
Setiap orang pasti merasakan hal yang sama saat terpisah, sedih mengingat ribuan kilometer jarak yang memisahkanku dengan mereka. Sulit rasanya berjuang sendiri tanpa keluarga, ya kini aku merasa berjuang sendiri. Meskipun sekarang aku tinggal bersama pakdheku.
Putri kecil kalian sekarang sudah tumbuh besar, sudah menjadi anak rantau, dan sudah berada jauh dari kalian. Demi meraih cita-cita aku berpisah sejenak dengan kalian. Setiap pagi aktivitas yang kulakukan terasa hampa tak seperti biasanya, aku merindukan rumah.

Bagaimana kabar abah dan ibu saat ini? Aku harap kalian baik-baik saja.
Ini aku, putri kecil kalian yang sedang merintis masa depan di kota orang. Di sini, aku mencoba menahan rindu pada kalian, meskipun terkadang aku merasa teriris dan tak mampu lagi menahan tangis ketika mengingat kalian.

Tapi, apakah abah dan ibu tahu setiap kali aku merasakan hal itu, aku benar - benar rindu akan sosok pahlawan dalam hidupku. Mengingat segala perjuangan dan pengorbanan kalian untukku, mulai dari aku lahir di dunia ini hingga aku dewasa seperti saat ini.

Abah Ibu, kini putri kecil kalian sudah tumbuh dewasa. Ingin rasanya kembali menjadi putri kecil kalian lagi, putri kecil yang selalu kalian sayang, kalian manja, kalian perhatikan, dan selalu kalian jaga.
Seperti teringat kembali pesan Ibu
“Jaga diri baik-baik, jangan macem-macem di sana, walaupun tidak ada Abah dan Ibu kamu harus tetap ingat tujuan kamu di sana.”
Dan wejangan-wejangan dari Abah
“Jangan lupa shalat lima waktu, hafalan surat-suratnya dibaca agar tidak lupa, baca juga doa-doa yang sudah abah berikan.”
Setiap kali aku merindukan mereka, rasanya aku ingin menangis, berteriak, dan berkata
“Aku ingin pulang, aku ingin memeluk kalian dan mencurahkan semua keluh kesahku.”
Tetapi hal seperti itu tidak mungkin kukatakan, mengingat perjuangan mereka membanting tulang bekerja siang dan malam untukku, apa pantas aku menangis di hadapan mereka? Apa aku masih akan menambahkan beban di pundak mereka yang sudah begitu berat? Aku tak mampu, hanya senyuman dan kebahagiaan yang kutunjukkan pada mereka. Kurasa tidak ada lagi hal yang mampu membuat kerja keras mereka tidak sia-sia selain prestasi dan senyuman yang merekah di wajahku.
Terkadang aku lalai, aku belanja semua yang kuinginkan, aku pergi ke tempat yang kuinginkan, padahal aku di sini untuk mewujudkan semua harapan yang tak bisa mereka raih saat  masa mudanya. Aku lupa jutaan keringat bercucuran dari tubuh mereka demi menyekolahkan aku.
Mereka tak pernah memaksakan kehendak mereka padaku. Semua keputusan selalu berada di tanganku. Doa serta dukungan mereka seraya menyertaiku di sini, tapi aku belum bisa membanggakan mereka dan memberikan apa pun yang mereka inginkan, padahal deras doa selalu terucapkan dari sudut bibir lembut penuh ketenangan itu. Abah Ibu maafkan aku. Aku rapuh tanpa kalian di sini.
Aku tak mampu memikul rindu yang teramat berat, aku ingin pulang. Kukuatkan tekad menatap teduhnya tatapan matamu meskipun hanya dalam bingkai foto. Semua itu membuatku yakin dan memantapkan niatku. Aku harus berjuang dan melewati setiap rintangan dengan senyuman, seperti kalian menelan seluruh kepahitan yang pernah kalian rasakan dengan doa.
Abah ibu doakan putrimu ini, aku berjanji akan membawa pulang segudang kerinduan dan kebanggaan yang selalu kalian harapkan. Ya, seperti pepatah mengungkapkan Setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya ke pelimbahan (kubang) juga. 

Komentar

  1. Keren...
    Jadi terbawa oleh suasana, menyentuh dan sangat menginspirasi untuk anak-anak rantauan yang jauh dari orang tua.
    Semoga tercapai semua keinginan dan cita-citanya :)

    Salam hangat...

    BalasHapus
  2. Sedih bacanya :( Tapi bagus sekali tulisannya :)

    BalasHapus
  3. Tulisannya bagus, bikin rindu orangtua apalagi sering jauh dari mereka :'''

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, jadi pelajaran juga buat yang dekat sama orang tua untuk tidak menyia-nyiakannya :)

      Hapus
  4. Sedih saya bacanya mbak, bagus tulisannya.

    BalasHapus
  5. Baguus tulisannya. Menyentuh bgt buat anak rantau :"(

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he terima kasih master pena☺️๐Ÿ™๐Ÿผ kangen ayah ga mbaa?

      Hapus
  6. kan jadi sediih ingeet bapak di rumah �� semoga kita bisa nunjukin kehebatan kita kelak agar mereka bisa senang dan bangga �� Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehee aamiin yaAllah. Semoga kita dapat membalas keringat bapak selama ini๐Ÿ˜‡

      Hapus
  7. Home is the greatest place ever and parents are everyone's home! love

    BalasHapus
  8. I like it... Suasana jadi pengen pulang aja....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, sejauh apapun perahu berlayar, pelabuhan adalah tempat terbaik! Begitu pun dengan rumah๐Ÿ˜Š

      Hapus

Posting Komentar