oleh: Izzatu Miratin Nisa
(sumber: google.com)
Rasa
haus dan lelah tersirat jelas diraut wajah keriputnya. Berjalan menelusuri
gang-gang perumahan warga jalan Kamboja, terik matahari yang menyengat kulit
tidak menjadi penghalangnya demi mendapatkan rezeki. Sepiring nasi dan segelas
air putih adalah pengganjal perutnya di pagi hari sebelum bekerja. Dengan
bermodalkan jarum dan benang sebagai alat bekerja serta tanpa bekal
makanan yang dapat menjadi teman saat datangnya tuntutan perut.
Sepak
terjal angkuhnya perputaran roda kehidupan tetap harus dilalui Sulaiman, lelaki
paruh baya asal Pasuruan, Jawa Timur. Kegigihan, kesabaran dan ketekunannya
membesarkan hati untuk terus menjalankan pekerjaan sebagai penjahit sepatu
keliling. Baginya menjadi penjahit sepatu keliling bukanlah suatu pekerjaan
yang hina. Walaupun dengan penghasilan perhari yang tidak menentu dan terkadang
mengharuskannya membanting tenaga untuk menjadi buruh bangunan, tidak menjadi
masalah besar baginya. Yang terpenting adalah pekerjaan yang dilakoni merupakan
pekerjaan yang halal.
“Sol sepatu... Sol sepatu...!”
Suara
teriakan mengalun sayup ditelinga, menandakan tubuh yang sejak siang tak
mengecap sedikitpun makanan. Bibir kering dan perut kosong tak mampu menuntut
banyak. Dengan penghasilan perhari yang tidak lebih dari tiga puluh ribu
rupiah, tak dapat menunaikan berbagai macam keinginan dan kebutuhan. Bahkan
terkadang uang sepeserpun tak didapatnya dalam sehari. Hanya sarapan pagi
seadanya dan makan malam yang sedikit mampu menutup rasa laparnya. Kesendirian
di kota rantauan mengajarkan Sulaiman untuk hidup mandiri tanpa ditemani istri dan
anak tercintanya.
Keinginan
besar menemui keluarga yang ditinggalkan sejak satu tahun lamanya hanya menjadi
impian dan angan semata. Mengubur dalam-dalam keingan terbesarnya adalah jalan
terbaik untuk meneruskan perjuangannya di kota rantauan. Uang bekerja yang
didapatkan perhari tak menyanggupi keinginan tersebut. Dapat bertahan di kota
orang sebagai perantau saja Sulaiman sudah sangat bersyukur. Walau terkadang
rasa rindu mengingat istri dan anaknya selalu membuat air mata Sulaiman menetes.
Lelaki
paruh baya yang bertempat tinggal di jalan Ahmad Yani ini menuturkan alasan
besarnya memilih merantau dan menjadi tukang jahit sepatu keliling yaitu karena
sulitnya mendapatkan pekerjaan lain dan tidak mempunyai keahlian lebih dibidang
apapun. Keadaan ekonomi memaksa Sulaiman untuk membanting tulang agar tetap
dapat menyekolahkan anak semata wayangnya di bangku SMA. Tak ingin anaknya
bernasib sama seperti dirinya, Sulaiman hanya bisa berdoa, berpasrah pada
Tuhan, dan berusaha menguatkan batin serta fisik untuk meneruskan
sisa-sisa hidup dan berjuang demi orang-orang yang dicintainya.
Kadangkala,
terlintas dibenaknya ingin membuka warung makan kecil-kecilan yang menjual
aneka makanan khas Jawa yang biasa dimasak istrinya. Hanya saja, keinginan itu
tak pernah terwujud. Biaya untuk mengongkosi istri dan anaknya ke kota Lamongan
tidaklah sedikit, apalagi biaya membuka warung makan. Kemudian terlintas
dipikirannya yang akan menjadi permasalahan kelak, bagaimana dengan nasib
sekolah anaknya? Semua menjadi pertimbangan besar yang harus dipikirkan oleh
seorang penjahit sepatu keliling sepertinya.
Niat
meminjam uang pada koperasi simpan-pinjam pikirnya tidaklah mungkin terwujud.
Mendapatkan izin pinjaman uang pada koperasi pastilah mempunyai syarat-syarat
tertentu yang memang harus dipenuhi. Tidak ada yang dapat dijamin dari orang
yang serba kekurangan. Apalagi pada orang yang berpenghasilan tidak lebih dari
tiga puluh ribu rupiah perhari sepertinya. Kembali lagi, Sulaiman mengubur
niatnya dalam-dalam.
Dengan
perkembangan pesat negera saat ini,
dibalik mewahnya kehidupan para tokoh berdasi dan berpendidikan tinggi, apa
yang tidak bisa mereka dapatkan? Jangankan rumah mewah, berlibur ke luar negeri
pun mereka bisa. Namun Sulaiman? Nasib tidak berpihak padanya.

Subhanallah.
BalasHapussemoga menginspirasi kita para kaum muda ya kak:)
HapusMasya Allah
BalasHapussemoga bisa memotivasi diri untuk selalu bersyukur ya kak, karena di luar sana masih banyak Pak Sulaiman yang lainnya:)
HapusMasya Allah, semoga diberi rizki yang lancar dan umur yang panjang, amiin.
BalasHapusAamiin kak :)
Hapusmassayaallah semoga bapak itu di angkat derajatnya oleh Allah SWT
BalasHapusAamiin yaa kak😊
HapusWorld full of unfortunate events. Sharing is precious
BalasHapusbe thankful girl for being overwhelmed with much pleasure and happiness ;)
HapusMasyaallah, semoga kita senantiasa bersyukur
BalasHapusAamiin yaAllah
Hapus