Oleh: Izzatu Miratin Nisa
Di tengah-tengah teknologi yang semakin maju dan berkembang, permainan tradisional pun semakin memudar. Kini sangat jarang anak-anak memainkan permainan tradisional yang sudah seharusnya dilestarikan agar tidak hanya menjadi cerita saja.
Kini permainan tradisional sudah tergeser oleh permainan-permainan modern yang semakin banyak dan lebih menarik di mata anak-anak. Padahal Indonesia sangat kaya akan permainan tradisionalnya, salah satunya adalah bendan.
Bendan merupakan nama permainan yang umum dikenal masyarakat Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan. Ciri permainan ini adalah melompat dengan satu kaki di dalam kotak. Bendan yang dikenal dengan berbagai nama menyebar di seluruh pelosok Nusantara saat pemerintahan Hindia Belanda.
Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar ke Nusantara pada zaman kolonial. Menurut Dr. Smupuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan yang kemudian diperkenalkan di Indonesia. Kini, bendan menjadi permainan tradisional yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Setiap pulang sekolah jadwal anak-anak di Desa Pambon, Lamongan untuk bermain. Di halaman yang tidak terlalu luas, mereka bermain bendan dengan gembira. Mungkin sebagian besar anak perkotaan tidak mengerti tata cara permainan ini. Namun, lain halnya dengan anak-anak di Desa Pambon yang begitu lihay memainkan permainan bendan. Melompat dengan satu kaki memang tidaklah mudah bagi anak-anak, dengan perlahan mereka melompat dari satu kotak ke kotak yang lain. Ada pula yang sebentar-sebentar kedua kakinya menapak di tanah. Kadang-kadang gacu terlempar melebihi batas kotak hingga harus gugur dan mengulang dari awal. Meskipun begitu, kebahagiaan terlihat di wajah mereka.
Hukuman karena kekalahan pun tak menjadi penghalang mereka untuk memainkan permainan ini lagi. “Kalah dalam permainan dan mendapat hukuman itu biasa. Itu membuat permainan bertambah seru dan memotivasi untuk bangkit dari kegagalan,” ujar Fifi salah satu pemain Bendan. Meskipun usianya terbilang remaja, Fifi tetap memainkan permainan ini. Oleh karena itu, bendan termasuk permainan tradisional yang tak kenal usia, sebab tidak hanya anak-anak saja yang memainkannya.
Bagi sub etnis Batak Angkola dan Mandailing yang mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Sidempuan, Padang lawas permainan ini disebut marpicek. Marcipek diambil dari kata picek yang artinya pecahan genting. Beda lagi halnya dengan sebagian besar masyarakat tanah Jawa yang mengenal bendan dengan sebutan engklek. Engklek biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Namun, tak jarang anak laki-laki pun turut memainkan permainan ini. Nama engklek juga dikenal dalam bahasa Betawi dan pada umumnya di Jakarta. Sebagian kecil warga Jakarta mengenalnya dengan betengan dan pecahan gentingnya biasa disebut bรชte.
Di tanah Pasundan, permainan ini dikenal sandah atau sandah-mandah. Di Sulawesi, khususnya bagian selatan bendan disebut dende yang artinya berjalan sambil melompat dengan satu kaki. Ada juga yang menyebut dengan ciplak gunung 12.
Manfaat Bermain Bendan
1. Melatih motorik kasar. Perkembangan saraf motorik kasar yang baik akan membantu anak-anak untuk lebih aktif, daya tahan tubuh lebih kuat, serta memiliki tubuh yang lentur.
2. Olahraga yang baik adalah yang mengandung unsur bermain. Bendan juga mengajak anak-anak untuk berolahraga sambil bermain.
3. Menurut Khoirotul Wahyuni mahasiswi psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, bermain merupakan salah satu cara anak untuk belajar. “Dengan bermain anak-anak bisa mengenali berbagai kondisi lingkungan di sekitarnya dan juga belajar berbagai macam hal, termasuk sosialisasi.”Ujar Wahyuni.
Cara Bermain
Cara bermain permainan bendan sangatlah mudah, tidak diperlukan perlatan yang ribet dan keahlian apa pun. Hanya memerlukan kapur tulis atau puing batu-batu untuk menggambar peta bendan di tanah dan alat untuk dilemparkan atau yang biasa disebut kereweng – gacu (istilah di Lamongan).
Semua pemain melakukan hompimpa yang menang berhak melakukan permaian terlebih dahulu. Seluruh bidang harus dilalui dengan lompatan dari satu kaki. Cara memulainya, pemain melemparkan pecahan genting atau kereweng – gacu mengarah ke kotak nomor satu atau bidang paling awal untuk dilewati. Dalam permainan ini dilatih keterampilan dalam mengamati ruang agar kereweng – gacu tidak keluar dari bidang yang sudah digambar dan tepat sasaran. Permainan ini juga melatih kecerdasan visual.
Setelah kereweng – gacu itu jatuh di kotak, setiap pemain pertama berhak melompat mulai dari kotak pertama sampai ke enam sesuai dengan giliran yang sudah diundi sebelum permainan. Setelah mencapai kotak ke enam, pemain berhenti sejenak di bidang A kemudian kembali lagi mengambil kereweng – gacu yang ada di kotak satu dengan posisi kaki satu masih diangkat.
Untuk naik ke tingkat selanjutnya pemain harus melempar kereweng – gacu ke bidang nomor 2 . Gerakan yang sama dengan level 1 akan diulang. Pemain selanjutnya akan mendapatkan giliran jika pemain melempar kereweng – gacu tidak tepat sasaran dan begitu seterusnya.
Memang dari sekian banyak permainan tradisional bendan banyak aturannnya, di antaranya kaki jangan keluar dari kotak, kereweng – gacu harus kembali diambil pada perjalanan kembali ke kotak nomor 1 dan seterusnya.
Dalam setiap permainan diharapkan pemain menerima kekalahannya. Jika pemain bermain curang maka akan mendapat respon negatif dari teman-temannya. Semoga permainan tradisional yang melegenda ini akan terus bertahan dan tidak tergerus seperti budaya lainnnya.
![]() |
| (sumber:https://www.google.co.id/) |
Di tengah-tengah teknologi yang semakin maju dan berkembang, permainan tradisional pun semakin memudar. Kini sangat jarang anak-anak memainkan permainan tradisional yang sudah seharusnya dilestarikan agar tidak hanya menjadi cerita saja.
Kini permainan tradisional sudah tergeser oleh permainan-permainan modern yang semakin banyak dan lebih menarik di mata anak-anak. Padahal Indonesia sangat kaya akan permainan tradisionalnya, salah satunya adalah bendan.
Bendan merupakan nama permainan yang umum dikenal masyarakat Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan. Ciri permainan ini adalah melompat dengan satu kaki di dalam kotak. Bendan yang dikenal dengan berbagai nama menyebar di seluruh pelosok Nusantara saat pemerintahan Hindia Belanda.
Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar ke Nusantara pada zaman kolonial. Menurut Dr. Smupuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan yang kemudian diperkenalkan di Indonesia. Kini, bendan menjadi permainan tradisional yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Setiap pulang sekolah jadwal anak-anak di Desa Pambon, Lamongan untuk bermain. Di halaman yang tidak terlalu luas, mereka bermain bendan dengan gembira. Mungkin sebagian besar anak perkotaan tidak mengerti tata cara permainan ini. Namun, lain halnya dengan anak-anak di Desa Pambon yang begitu lihay memainkan permainan bendan. Melompat dengan satu kaki memang tidaklah mudah bagi anak-anak, dengan perlahan mereka melompat dari satu kotak ke kotak yang lain. Ada pula yang sebentar-sebentar kedua kakinya menapak di tanah. Kadang-kadang gacu terlempar melebihi batas kotak hingga harus gugur dan mengulang dari awal. Meskipun begitu, kebahagiaan terlihat di wajah mereka.
Hukuman karena kekalahan pun tak menjadi penghalang mereka untuk memainkan permainan ini lagi. “Kalah dalam permainan dan mendapat hukuman itu biasa. Itu membuat permainan bertambah seru dan memotivasi untuk bangkit dari kegagalan,” ujar Fifi salah satu pemain Bendan. Meskipun usianya terbilang remaja, Fifi tetap memainkan permainan ini. Oleh karena itu, bendan termasuk permainan tradisional yang tak kenal usia, sebab tidak hanya anak-anak saja yang memainkannya.
Bagi sub etnis Batak Angkola dan Mandailing yang mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Sidempuan, Padang lawas permainan ini disebut marpicek. Marcipek diambil dari kata picek yang artinya pecahan genting. Beda lagi halnya dengan sebagian besar masyarakat tanah Jawa yang mengenal bendan dengan sebutan engklek. Engklek biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Namun, tak jarang anak laki-laki pun turut memainkan permainan ini. Nama engklek juga dikenal dalam bahasa Betawi dan pada umumnya di Jakarta. Sebagian kecil warga Jakarta mengenalnya dengan betengan dan pecahan gentingnya biasa disebut bรชte.
Di tanah Pasundan, permainan ini dikenal sandah atau sandah-mandah. Di Sulawesi, khususnya bagian selatan bendan disebut dende yang artinya berjalan sambil melompat dengan satu kaki. Ada juga yang menyebut dengan ciplak gunung 12.
Manfaat Bermain Bendan
1. Melatih motorik kasar. Perkembangan saraf motorik kasar yang baik akan membantu anak-anak untuk lebih aktif, daya tahan tubuh lebih kuat, serta memiliki tubuh yang lentur.
2. Olahraga yang baik adalah yang mengandung unsur bermain. Bendan juga mengajak anak-anak untuk berolahraga sambil bermain.
3. Menurut Khoirotul Wahyuni mahasiswi psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, bermain merupakan salah satu cara anak untuk belajar. “Dengan bermain anak-anak bisa mengenali berbagai kondisi lingkungan di sekitarnya dan juga belajar berbagai macam hal, termasuk sosialisasi.”Ujar Wahyuni.
Cara Bermain
Cara bermain permainan bendan sangatlah mudah, tidak diperlukan perlatan yang ribet dan keahlian apa pun. Hanya memerlukan kapur tulis atau puing batu-batu untuk menggambar peta bendan di tanah dan alat untuk dilemparkan atau yang biasa disebut kereweng – gacu (istilah di Lamongan).
Semua pemain melakukan hompimpa yang menang berhak melakukan permaian terlebih dahulu. Seluruh bidang harus dilalui dengan lompatan dari satu kaki. Cara memulainya, pemain melemparkan pecahan genting atau kereweng – gacu mengarah ke kotak nomor satu atau bidang paling awal untuk dilewati. Dalam permainan ini dilatih keterampilan dalam mengamati ruang agar kereweng – gacu tidak keluar dari bidang yang sudah digambar dan tepat sasaran. Permainan ini juga melatih kecerdasan visual.
Setelah kereweng – gacu itu jatuh di kotak, setiap pemain pertama berhak melompat mulai dari kotak pertama sampai ke enam sesuai dengan giliran yang sudah diundi sebelum permainan. Setelah mencapai kotak ke enam, pemain berhenti sejenak di bidang A kemudian kembali lagi mengambil kereweng – gacu yang ada di kotak satu dengan posisi kaki satu masih diangkat.
Untuk naik ke tingkat selanjutnya pemain harus melempar kereweng – gacu ke bidang nomor 2 . Gerakan yang sama dengan level 1 akan diulang. Pemain selanjutnya akan mendapatkan giliran jika pemain melempar kereweng – gacu tidak tepat sasaran dan begitu seterusnya.
Memang dari sekian banyak permainan tradisional bendan banyak aturannnya, di antaranya kaki jangan keluar dari kotak, kereweng – gacu harus kembali diambil pada perjalanan kembali ke kotak nomor 1 dan seterusnya.
Dalam setiap permainan diharapkan pemain menerima kekalahannya. Jika pemain bermain curang maka akan mendapat respon negatif dari teman-temannya. Semoga permainan tradisional yang melegenda ini akan terus bertahan dan tidak tergerus seperti budaya lainnnya.

Jafi inget pas kecil wkwkwk sering main bendan
BalasHapusSering menang atau kalah kak?
Hapuswahh jadi inget waktu kecil sering banget main itu :*
BalasHapusDi tempat kakak nama permainanya apa kak?
HapusKalo di Lampung namanya taplak kuping :D
BalasHapustapi sekarang udah jarang yang main, pada sibuk sama gadgetnya masing-masing hehe
Hehe sayang sekali ya, padahal permainan tradisional harusnya dilestarikan :)
HapusPermainan masa kecil gua ini, jadi keingat teman di kampung
BalasHapusAlhamdulillah jadi inget kampung hehe
Hapuskan jadi nostalgia sama temen kecil dulu yang ga mau ngalah wkkwkw jadi pengen kembali kecil lagi kwkwk
BalasHapusHehee masa kecil yang teramat indah untuk dilupakan. saya menang terus ya kak?๐
HapusChildhood memoriessss. yayyy
BalasHapusHehee, terima kasih sudah membaca kak! ๐
HapusAku nyebutnya main bete. Hihi jadi inget masa kecil duluuu
BalasHapusHehee beda nama tetap satu cara bermainnya ya kak☺️
Hapus